Wednesday, August 26, 2009

3 Yang Sering Kita Lupakan

Kalau saja kita halusi dan cermati, di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis ada bahagian-bahagian dari beberapa hal yang diterlupakan dan sering dilupakan. Bahkan mungkin dianggap tidak penting atau mungkin tidak terfikirkan keberadaannya.

3 yang harus ditaati manusia:
Allah, Rasulullah, dan Ulil Amri.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika engkau berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisaa’: 59)
Ulama berbeda pendapat mengenai makna ulil amri. Sejumlah kitab tafsir, khususnya kitab tafsir klasik semisal Tafsir at-Thabari dan Ruh al-Maani, hanya menyebutkan contoh ulil amri itu pada jabatan atau profesi yang dipandang bersesuaian pada masanya. Sedangkan Tafsir al-Maraghi, yang merupakan kitab tafsir yang ditulis pada abad 20 ini, menyebutkan contoh-contoh ulil amri itu tidak hanya berkisar pada ahlul halli wal aqdi, ulama, pemimpin perang saja, tetapi juga memasukkan profesi wartawan, buruh, pedagang, petani ke dalam contoh ulil amri.
Namun perlu diperhatikan bahwa perintah taat kepada ulil amri tidak digandingkan dengan kata “taat”, sebagaimana kata “taat” yang digandingkan dengan Allah dan Rasul

"Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.”.(An nisaa’: 59)

Quraish Shihab, memberi ulasan yang menarik:

“Tidak disebutkannya kata “taat” pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka.
Dalam hal ini dikenal kaidah yang sangat populer yaitu:

“La thaat li makhluqin fi ma’shiyat al-Khaliq”
Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).”
3 sumber hukum Islam:

Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad.

Dari Mu’adz bin Jabal ra, bahwa Rasulullah SAW ketika akan mengirimnya ke Yaman bertanya:
“Ya Mu’adz bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa orang kepadamu?”
“Saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam Kitabullah”, jawab Mu’adz.
Nabi SAW bertanya lagi:
“Kalau engkau tak menemukan hal itu dalam Kitabullah, bagaimana?”
Mu’adz menjawab:
“Saya akan memutuskannya menurut Sunnah RasulNya”
Lalu Nabi SAW bertanya lagi:
“Kalau hal itu tidak ditemukan juga dalam keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul, bagaimana?”
Lalu Mu’adz menjawab:
“Jika tidak terdapat dalam keduanya saya akan berijtihad tanpa ragu sedikitpun.,/p>
Mendengar jawaban itu, Nabi Muhammad SAW lalu meletakkan kedua tangannya ke dada Mu’adz dan berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan Rasulullah, sehingga menyenangkan hati Rasul-Nya.”(HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud)
Penggunaan tiga sumber nilai itu hendaknya diprioritaskan yg pertama, kemudian yang kedua dan selanjutnya baru yang ketiga. Konsekuensinya adalah apabila bertentangan satu dengan yg lain, maka hendaknya dipilih Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian yg kedua Al-Hadis. Berbeda dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagi berikut :

a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif.


b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain.


c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ‘ ibadah mahdhah. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah.


d. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.


e. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motifasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.


3 pilar utama dalam agama:

Islam, Iman dan Ihsan.

Diriwayatkan dari Umar ra beliau berkata:
“Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW pada suatu hari, datanglah seorang yang berpakaian putih bersih dan berambut hitam kelam yang tak nampak padanya tanda-tanda perjalanan jauh, namun tak satupun dari kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk menghadap Rasulullah SAW hingga kedua lututnya bersentuhan dengan lutut Rasulullah SAW dan ia pun meletakkan kedua telapak tangannya di paha Rasulullah SAW, lalu berkata:
“Wahai Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam!”
Lalu Rasulullah SAW menjawab:
“Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa dan menunaikan haji jika engkau mampu menegerjakannya.”
Orang itu berkata:
“Benar engkau !”
Kami semua hairan, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Orang itu berkata lagi:
‘Beritahukan kepadaku tentang Iman!”
Rasulullah SAW menjawab:
“Bahawa engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulnya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
Orang itu berkata:
“Benarlah engkau!”
Dia berkata lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Ihsan!”.
Rasulullah SAW menjawab:
“Bahawa engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, engkau merasa sedang dilihat oleh Allah SWT.”
Orang itu berkata lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang kiamat!”
Rasulullah SAW menjawab:
“Tidaklah orang yang ditanya mengenainya (kiamat) lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.”
Orang itu berkata lagi:
“Kalau begitu beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Rasulullah SAW menjawab:
“Akan engkau jumpai sahaya wanita melahirkan tuannya, dan akan engkau lihat orang-orang bertelanjang kaki dan dada, miskin, dan penggembala domba (kemudian) sama bermegah-megahan di dalam gedung-gedung”.
Kemudian orang itu pun bertolak pergi. Maka aku pun berada dfalam kebingungan.
Kemudian Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Umar! Tahukah engkau siapakah orang yang datang bertanya itu?”
Aku menjawab:
“Allah dan RasulNyalah yang lebih tahu.”
Sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya dia adalah Jibril. Dia datang untuk mengajarimu tentang agamamu.” (HR Muslim)

Rukun Islam, Iman, dan Ihsan adalah tripod (penopang berkaki tiga) yang menunjang tegaknya agama Allah SWT pada diri manusia. Ketika satu dari kaki-kaki penopang itu hilang maka agama itu tidak akan tegak pada diri seseorang.

Ihsan berisi gambaran batin yang semestinya terjadi pada seseorang yang sedang beribadah. Rasa atau kesadaran sedang dilihat oleh Allah SWT, kesadaran akan kehadiran Allah yang dekat dengan dirinya. Aspek dalam rukun Islam berisi ketentuan beribadah, dan dalam rukun Iman ada pokok keyakinan, sedang dalam rukun Ihsan adalah bentuk pengamalannya.
3 tugas Rasulullah:
Tilawah, Taklim, dan Tazkiyah.
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah : 129)
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkanmereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar benar dalam kesesatan yang nyata,(Al-Jumu’ah : 2)
"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.(Al-Baqarah : 151)
Tazkiyah menurut bahasa berasal dari akar kata zakaa, berarti “berkembang”. Sedangkan yang dimaksud disini ialah membersihkan jiwa atau mensucikan qalbu kita dari segala penyakit hati akibat dosa-dosa yang telah menjerat kita. Nabi telah menjelaskan makna tazkiyah nufus (pembersihan jiwa), meyakini bahwa Allah selalu bersamanya dimanapun ia berada. Tanpa kesucian jiwa maka makna ayat-ayat yang dibacakan tak akan terpahami dengan baik, tak juga ayat-ayat itu terasakan sebagai penggerak yang memotivasi orang untuk mengamalkannya.
Perhatikan surah Al-Baqarah ayat 129, sebelum Rasulullah SAW diutus ke muka bumi, Nabi Ibrahim dalam do’anya menempatkan tugas mensucikan di urutan terakhir. Namun pada Al-Jumu’ah ayat 2 dan Al-Baqarah ayat 151, Allah menempatkan tugas Rasul untuk mensucikan kita sebelum Taklim Alkitab dan Al-Hikmah. Ini menunjukkan pentingnya tazkiyah bahkan sebelum kita mempelajari Alkitab dan Al-Hikmah.
Banyak yang dapat membacakan ayat-ayatNya kepada kita, bahkan sekarang ini fungsi tilawah telah banyak tergantikan oleh berbagai media seperti kaset, CD/VCD/DVD. Kita pun dapat berguru kepada para ulama dan ustadz untuk mempelajari dan mengkaji Alkitab dan Al-Hikmah, makin banyak ustadz yang memimpin majlis-majlis taklim, baik langsung maupun menggunakan fasilitas 'distance learning' melalui radio/tv dan internet. Tapi siapa yang mentazkiyah diri kita saat ini?
Adakah para ustadz/kyai itu dapat mentazkiyah jiwa kita?
Apakah para murabbi kita juga sudah tersucikan jiwanya sehingga mampu mentazkiyah kita?
Kadang kadang kita katakan, tak perlu tazkiyah secara formal, lakukan saja ibadah-ibadah yang ada dengan ikhlas dan tekun, nanti jiwa akan tertazkiyah sendiri. Betulkah? Bagaimana kita dapat ikhlas kalau belum tazkiyah. Islam, Iman dan Ihsan
Rasulullah SAW mendapatkan tilawah, tazkiyah, dan taklim dari malaikat Jibril. sahabat mendapatkannya dari Rasulullah SAW. Para tabi’in dari para sahabat… begitulah seterusnya. Tapi lagi-lagi, siapa yang mentazkiyah kita saat ini?
Kadang-kadang kita terlalu arogan dengan mengatakan tak perlu tazkiyah dan orang yang mentazkiyah, karena hubungan kita dengan Allah SWT bersifat langsung dan individual, tak memerlukan perantara. Tapi betulkah kita, dengan segala kekotoran kita dapat terhubung langsung dengan Allah?
Bukankah Rasulullah SAW sebelum mi’raj pun ditazkiyah dulu qalbunya oleh Jibril?
Masukilah rumah lewat pintunya. Pelajarilah agama melalui sumbernya. Seraplah cahaya ilahiah melalui salurannya. Mursyid itu perlu! Kita tidak akan pandai tanpa guru (bukankah dikatakan, siapa yang belajar tanpa guru maka gurunya adalah syaitan…).
Jiwa tidak dapat dibersihkan tanpa ada yang men-tazkiyah-nya. Tentu jangan sembarang orang kita jadikan mursyid. Bagaimana ia akan men-tazkiyah diri kita kalau dia pun belum tersucikan jiwanya. Carilah mursyid yang berkualifikasi wali. Bukan wali murid, atau wali nikah,
tapi wali Allah.
Carilah olehmu seorang Mursyid yang Kamil Mukammil (seorang mursyid yang sudah sempurna dalam wushulnya kepada Allah dan dapat menyempurnakan muridnya untuk juga wushul kepada Allah). Seorang waliyullah yang musalsal (bersambung silsilahnya hingga kepada Rasulullah SAW - Jibril - Allah SWT).

By: Perihatin

No comments:

CROWN D'RAJA PERTUBUHAN MQTK QuranSunnahIslam..

........free counters ..............................................................................“and I have come to you with a SIGN FROM YOUR LORD, so fear Allah and OBEY ME! Truly Allah is my Lord and your Lord. Therefore submit to HIM! This is A STRAIGHT PATH" (maryam 19:36)